“Ngariung Jadi Kekuatan Ekonomi: Belajar dari Saung Rahayat 2025 di Kabupaten Kuningan”
LJ / KUNINGAN — Di tengah berbagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah—mulai dari digitalisasi hingga inovasi teknologi—sering kali kita melupakan satu kekuatan paling mendasar: hubungan antarmanusia. Kebersamaan dan kedekatan sosial justru bisa menjadi fondasi kuat dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan.
Hal inilah yang tercermin dalam Festival UMKM Saung Rahayat 2025 yang diselenggarakan di Kabupaten Kuningan. Mengusung tema “Baraya” yang dalam bahasa Sunda berarti keluarga, festival ini hadir bukan sekadar sebagai ajang pameran produk, tetapi sebagai ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat.
Dengan semangat “Baraya: Bareng Rahayat Aya Raharja”, Saung Rahayat 2025 dirancang sebagai wadah interaksi antara pelaku UMKM, komunitas budaya, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi. Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai pusat dari pembangunan ekonomi, bukan sekadar objek.
Hasilnya cukup signifikan. Festival ini berhasil menarik 10.920 pengunjung dan mencatat perputaran ekonomi lebih dari Rp220 juta bagi para pelaku usaha yang terlibat. Angka tersebut menunjukkan bahwa ketika ruang kolaborasi dibuka secara inklusif, UMKM tidak hanya memperoleh peluang penjualan, tetapi juga memperluas jejaring dan mendapatkan masukan langsung dari pasar.
“Ngariung” sebagai Strategi Pembangunan
Salah satu keunikan Saung Rahayat 2025 terletak pada pemaknaan ulang istilah “ngariung”. Jika selama ini ngariung identik dengan aktivitas berkumpul santai, dalam konteks festival ini, ngariung berkembang menjadi pendekatan strategis berbasis dialog.
Panitia secara aktif turun ke lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, komunitas lokal, pemerintah, hingga pelaku usaha. Melalui proses ini, mereka berusaha memahami karakter dan kebutuhan masyarakat Kuningan secara lebih mendalam.
Pendekatan ini membuat konsep acara tidak dipaksakan dari luar, melainkan tumbuh dari realitas masyarakat itu sendiri. Hasilnya bukan hanya acara yang ramai, tetapi juga terciptanya rasa memiliki yang kuat dari berbagai pihak.
Lebih dari sekadar transaksi ekonomi, Saung Rahayat juga membuka ruang bagi terbentuknya jaringan sosial baru, pertukaran pengetahuan, serta peluang kolaborasi jangka panjang. Inilah bukti bahwa tradisi sederhana seperti ngariung dapat berkembang menjadi strategi pembangunan yang relevan.
Refleksi untuk Pengembangan Daerah
Pembelajaran dari Saung Rahayat 2025 menjadi refleksi penting bagi berbagai pihak, khususnya penyelenggara kegiatan ekonomi dan sosial di daerah. Tidak sedikit program yang dirancang berdasarkan tren atau asumsi tanpa memahami konteks lokal secara utuh.
Padahal, setiap daerah memiliki karakteristik unik—mulai dari budaya, preferensi masyarakat, hingga pola interaksi sosial. Di sinilah konsep ngariung dan baraya menjadi relevan.
Ngariung mengajarkan pentingnya hadir dan mendengar secara langsung, bukan sekadar mengandalkan data atau survei. Sementara baraya menekankan bahwa pembangunan adalah proses kolektif, di mana keberhasilan diukur dari kesejahteraan bersama.
Bagi penyelenggara acara, pendekatan ini berarti pergeseran fokus: dari sekadar membuat event menjadi membangun ekosistem. Sebab, kekuatan sebuah acara tidak terletak pada kemegahannya, melainkan pada relevansinya dengan masyarakat.
Kolaborasi sebagai Kunci
Saung Rahayat 2025 juga menjadi contoh nyata sinergi antara mahasiswa, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah. Kolaborasi ini sejalan dengan komitmen Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, yang terus mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam pembangunan daerah.
Melalui pendekatan partisipatif seperti ini, pertumbuhan ekonomi tidak hanya menjadi target angka, tetapi juga proses yang memperkuat hubungan sosial di masyarakat.
Pada akhirnya, Saung Rahayat 2025 mengingatkan bahwa solusi untuk pembangunan ekonomi lokal tidak selalu harus kompleks. Terkadang, jawabannya sudah ada dalam budaya itu sendiri—tinggal bagaimana kita mau kembali mendengarkan.
Dan mungkin, langkah pertama yang paling sederhana adalah: duduk bersama.